Kabar soal puding stroberi yang nggak layak makan di program Makan Bergizi Gratis (MBG) bikin orangtua siswa di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, langsung waswas. Isu ini pun sampai ke telinga Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang, Djoko Prihatin, yang minta supaya pengelolaan programnya segera dievaluasi total biar kualitas tetap terjaga dan kepercayaan publik nggak luntur.
Video yang beredar di kalangan orangtua juga cukup bikin kaget. Pudingnya terlihat keruh dan ada belatung di dalamnya. Dugaan sementara, pengawasan bahan baku terutama buah stroberi kurang maksimal.
Pihak sekolah pun gerak cepat. Mereka langsung mengimbau agar puding tersebut tidak dimakan dan diminta untuk dibuang. Langkah ini diambil supaya nggak ada risiko gangguan kesehatan pada siswa.
Sorotan kemudian mengarah ke dapur penyedia MBG, yaitu SPPG Tulusrejo 2 yang jadi mitra beberapa sekolah di kawasan itu. Banyak orangtua berharap ada evaluasi menyeluruh, terutama soal standar kebersihan dan sistem distribusi makanan.
Menanggapi situasi ini, Djoko menilai kejadian tersebut harus jadi momen buat berbenah. Menurutnya, pengawasan harus detail dari hulu ke hilir mulai dari bahan baku, proses masak, sampai makanan diterima siswa.
Ia menegaskan, pembenahan nggak bisa setengah-setengah. Semua tahapan wajib dipastikan aman dan sesuai standar. Pemeriksaan juga nggak cukup kalau cuma ambil sampel terbatas. Sistem kontrolnya harus menyeluruh supaya nggak ada celah kelalaian.
Selain itu, Djoko juga menyoroti pentingnya kualitas SDM yang terlibat. Rekrutmen pegawai, katanya, harus profesional dan berbasis kompetensi. Soalnya ini urusannya kesehatan anak-anak, jadi nggak bisa dianggap remeh.
Di sisi lain, ia mengingatkan agar polemik ini nggak bikin orang lupa sama tujuan besar program MBG. Program ini dinilai punya dampak positif bukan cuma buat pemenuhan gizi siswa, tapi juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan UMKM lokal.
Karena itu, ia mengajak semua pihak tetap mendukung program pemerintah tersebut, dengan catatan pengelolaannya harus makin profesional dan transparan. Pengawasan perlu diperkuat, termasuk memastikan keuntungan yang diambil nggak sampai mengorbankan kualitas bahan baku.
Kejadiannya berlangsung Selasa, 3 Maret 2026. Beberapa wali murid nemuin belatung di dalam puding stroberi yang dibagikan ke siswa salah satu SD di wilayah Lowokwaru. Awalnya info ini beredar dari chat pribadi antarorangtua, lalu melebar ke grup WhatsApp dan jadi perbincangan ramai.
Salah satu wali murid yang nggak mau disebut namanya cerita kalau dia dapat kabar dari orangtua lain, lalu memutuskan cek langsung. Ternyata bukan cuma satu anak atau satu kelas yang ngalamin. Keluhan datang dari siswa kelas 3 sampai kelas 6. Dari situ muncul dugaan kalau masalahnya ada di proses produksi, bukan sekadar kejadian tunggal.
Intinya, programnya bagus dan patut didukung. Tapi pelaksanaannya harus serius, standar mutu dijaga, dan kualitas bahan nggak boleh ditawar.
Buat para orangtua, satu hal yang paling penting tetap sama: anak-anak harus dapat makanan yang aman, sehat, dan benar-benar layak konsumsi.