
KOTA MALANG — Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah tak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tapi juga jadi refleksi sosial dan politik yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang, Djoko Prihatin, melihat momen ini sebagai pengingat penting tentang arti pengorbanan, empati, dan kepedulian di tengah dinamika kehidupan yang makin kompleks.
Menurutnya, Idul Adha tahun ini hadir di saat masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tekanan ekonomi hingga perubahan sosial yang cepat. “Makna kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tapi bagaimana kita bisa menekan ego pribadi dan lebih peka terhadap kondisi sekitar,” ujarnya.
Pengorbanan yang “Relate” untuk Kader
Dalam konteks kader Partai Golkar, nilai pengorbanan dianggap harus lebih “real” dan terasa dampaknya. Bukan cuma simbolis, tapi benar-benar diwujudkan dalam kerja nyata.
“Pengorbanan kader itu ya berani turun langsung ke masyarakat, mendengar keluhan mereka, bahkan kalau perlu mengorbankan waktu, tenaga, dan kenyamanan pribadi demi kepentingan rakyat,” jelasnya.
Nilai ini dinilai penting agar politik tidak terkesan jauh dari masyarakat, tapi justru hadir sebagai solusi.
Semangat Berbagi: Bukan Sekadar Seremonial
Idul Adha juga identik dengan berbagi. Partai Golkar Kota Malang, ujar Bang Djoe ( panggilan akrab ), berkomitmen menjaga kedekatan dengan masyarakat lewat aksi nyata, seperti pembagian hewan kurban hingga kegiatan sosial lainnya.
“Yang penting bukan jumlahnya, tapi konsistensinya. Kita ingin hadir, bukan hanya saat momen politik, tapi juga saat masyarakat butuh,” tambahnya.
Pesan untuk Kader: Tetap Solid dan Rendah Hati
Momentum ini juga dimanfaatkan untuk menguatkan internal partai. Ia berpesan kepada seluruh kader agar tetap solid, menjaga semangat gotong royong, dan tidak kehilangan empati.
“Jangan sampai kita sibuk dengan dinamika politik tapi lupa esensi utama: melayani masyarakat,” tegasnya.
Idul Adha = Ajang Konsolidasi Juga
Menariknya, Idul Adha juga jadi ruang konsolidasi hingga tingkat kecamatan dan kelurahan. Kegiatan kurban dan sosial dinilai efektif mempererat hubungan antar kader sekaligus dengan masyarakat.
“Dari sini kita bangun chemistry, kekompakan, dan tentunya kepercayaan publik,” katanya.
Gotong Royong, Kunci Bangun Kota
Dalam membangun Kota Malang, nilai gotong royong disebut sebagai fondasi utama. Ia menilai, tanpa kebersamaan, pembangunan tidak akan berjalan optimal.
“Politik itu harus jadi alat pemersatu, bukan pemecah. Dan Idul Adha mengajarkan itu dengan sangat kuat,” ujarnya.
Politik Harus Tetap Pro-Rakyat
Di tengah dinamika politik yang sering memanas, Idul Adha jadi pengingat agar semua pihak tetap mengedepankan kepentingan masyarakat.
“Jangan sampai politik kehilangan arah. Harus tetap berpihak pada rakyat, bukan kepentingan kelompok,” kata Bang Djoe lugas.
Harapan untuk Masyarakat Kota Malang
Di momen Idul Adha ini, Bang Djoe berharap masyarakat Kota Malang tetap menjaga kebersamaan, saling membantu, dan tidak mudah terpecah.
“Semoga semangat berbagi dan kepedulian ini terus hidup, bukan cuma saat Idul Adha,” harap Djoko Prihatin.
Agenda Sosial Golkar
Dalam menyambut Idul Adha, Partai Golkar Kota Malang juga telah menyiapkan berbagai kegiatan sosial, mulai dari penyembelihan dan distribusi hewan kurban hingga aksi sosial lainnya yang langsung menyentuh masyarakat.
Pengorbanan dalam Politik
Terakhir, Bang Djoe menegaskan bahwa dalam perjuangan politik, pengorbanan adalah hal wajib.
“Seorang politisi harus siap mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan yang lebih besar. Kalau tidak, ya sulit dipercaya masyarakat,” pungkas Djoko Prihatin.
Dengan semangat Idul Adha, diharapkan politik di Kota Malang bisa semakin humanis, dekat dengan rakyat, dan benar-benar membawa manfaat nyata.