
Kota Malang - Jauh dari sorotan dan hiruk-pikuk kota, ada sebuah sekolah yang tulus menggratiskan seluruh biaya pendidikannya demi masyarakat, meski harus bertahan di dalam bangunan yang belum usai!
Inilah realitas yang terjadi di sebuah sudut Kota Malang. Tepatnya di Jalan Cengger Ayam, Kecamatan Lowokwaru. Di sanalah Yayasan Pengembangan Ilmu dan Karya, atau yang akrab disebut YPIK, berdiri tegak menghadapi badai keterbatasan sarana dan prasarana. Kondisi infrastruktur pendidikan di tempat ini menyisakan tanda tanya besar, menanti tangan-tangan peduli untuk membenahinya.

Tapi tunggu dulu. Sebuah angin segar tiba-tiba berhembus pada Kamis, 23 Juli 2026. Ini bukanlah agenda basa-basi. Sekretaris Bidang Akademisi DPP Partai Golkar, Arief Rosyid Hasan, bersama Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang, Djoko Prihatin, turun langsung menembus lapangan. Kunjungan ini mematahkan kebiasaan lama yang sekadar seremonial. Mereka datang untuk membedah langsung urat nadi fasilitas pendidikan yang sangat butuh sentuhan perbaikan demi masyarakat.

Ternyata, fakta berikutnya jauh lebih menarik. Mengapa YPIK yang menjadi tujuan? Arief membongkar sebuah rahasia sejarah yang jarang diketahui. Sejak awal mula, Partai Golkar rupanya ditopang oleh tiga pilar raksasa: politik, ekonomi, dan akademik. Mengawal sektor pendidikan bukanlah sekadar tugas sampingan, melainkan tanggung jawab moral yang mengakar kuat. YPIK sendiri menyimpan jejak sejarah panjang bersama partai ini.
Arief pun tak segan melempar apresiasi tajam. Ia memuji nyali Djoko Prihatin yang bersikeras menjaga detak jantung lembaga pendidikan ini di tengah gempuran zaman. Kepedulian semacam inilah yang diyakini mampu meraup kepercayaan publik, sekaligus menjadi senjata utama mencetak sumber daya manusia tangguh di Kota Malang.
Sayangnya, niat suci ini terbentur kerasnya kenyataan. Infrastruktur mereka masih jauh dari kata memadai. Keterbatasan sarana membuat sayap lembaga ini belum bisa mengepak maksimal. Kehadiran Arief Rosyid pun dijadikan pintu gerbang utama. Misinya jelas. Djoko ingin suara dan aspirasi dari Kota Malang bisa menembus hingga ke telinga pengurus pusat. Ini adalah wujud karya nyata, sebuah investasi jangka panjang menuju gerbang Indonesia Emas 2045.
Seolah belum cukup, masih ada hal lain yang membuat banyak pihak tercengang. Mari kita dengarkan kesaksian Ketua YPIK Malang, Soenaritanto. Coba tebak sudah berapa lama yayasan ini berdiri? Empat puluh lima tahun. Bayangkan, selama hampir setengah abad bernapas, baru pada detik inilah ada pengurus pusat yang menginjakkan kaki secara langsung untuk melihat wajah asli pendidikan mereka. Sebuah rekor sejarah yang tak disangka-sangka.
Di balik senyum menyambut tamu pusat, tersimpan kisah penuh luka. Soenaritanto mengenang masa-masa kelam saat pandemi COVID-19 menghantam tanpa ampun. Jumlah siswa dan mahasiswa terjun bebas. Yayasan ini sempat sempoyongan, nyaris tak mampu mengembangkan fasilitas pendidikan mereka.
Tetapi kini, mereka menolak menyerah. YPIK perlahan bangkit dari keterpurukan. Peserta didik kembali berdatangan. Berbagai pembaruan terus diracik agar lembaga ini tampil semakin maju dan profesional.

Perjuangan belum usai. Harapan pun digantungkan setinggi langit. Masih ada kerangka gedung yang belum tuntas dibangun dan kebutuhan fasilitas mendesak yang menanti uluran tangan nyata. Kunjungan tidak boleh berhenti hanya pada sebuah jabat tangan. Dengan fasilitas yang mumpuni, yayasan ini siap mencetak generasi emas masa depan. Sebuah kisah nyata dari sudut Malang yang menyadarkan kita, bahwa masa depan bangsa selalu bermula dari ruang-ruang kelas yang tak pernah lelah untuk terus diperjuangkan.
https://audio.jukehost.co.uk/019f9080-45dd-71e5-9a38-4b0a334f970e